Hikmah yang dapat diambil dari tayangan ILC di TV ONE malam ini tentang “Kenapa Anak Makin Kejam ?”

Menurut Kriminolog anak, ada 4 faktor pemicu kekejaman yg dilakukan seorang anak :

  1. Attachment
    Tak ada sentuhan kasih sayang dari orang tuanya, tak ada bonding, ikatan emosi, kekuatan kasih sayang yg ia dapatkan dari orang tuanya dan lingkungannya.
    Akhirnya ia cari dan dapatkan dari media sosial. Baik film, video ataupun medsos.
  2. Commitment
    Si anak tak mendapatkan pemahaman ttg arti komitmen dari dirinya sebagai anak,sbg hamba Alloh, sbg anggota masyarakat di lingkungannya, contoh : sbg anak saya berkomitmen menjadi anak yg baik, yg sayang pada keluarga, ingin membanggakan ayah bunda, dan berhasil di masa depan dg segala upaya saya lakukan. Jika rasa komitmen ini hilang dari diri seorang anak, maka ia akan jadi manusia yg tak punya empati, tak perduli dgn dirinya dan lingkungannya. Tak punya tujuan hidup.
  3. Involvement
    Hilangnya involvement (keterlibatan) yg harus dilakukan, antara orang tua dan anak serta keterlibatan penuh orang tua thdp pengaruh lingkungan si anak.
    Saat ini yg ada adalah involvement gadget, pengaruh HP, dan lingkungan teman sebaya.
    Bila yg ambil peran dalam pembentukan karakter adalah pengaruh teman sebaya, film ttg kekerasan, pornografi, bullying yg ia dapat dari HP dan lingkungannya, maka lahirlah anak2 yg kejam dan menganggap kekejaman itu hal yg biasa aja, datar melihatnya, bahkan ia jadikan itu utk eksistensi dirinya di medsos (lihat status anak yg membunuh si balita di medsos). Faktor pemberitaan di medsos itu sangat berpengaruh pada anak2 kita, mereka imitate, meniru tanpa rasa bersalah. Karena tdk paham konsekuensi atas perbuatannya.
  4. Believe (keyakinan/ agama/ aqidah)
    Ini sangat penting. Seharusnya anak mendapatkan pemahaman agama yg utuh dari ayah bundanya (ring 1) ttg siapa dirinya, siapa Tuhannya, ajaran agamanya, juga ditambah pemahamannya dari gurunya di sekolah (ring 2) baru kemudian tambahan penguatan pemahaman dari lingkungannya (ring 3) misalnya sore ikut TPA/ Madrasah .
    Adanya keyakinan yg teguh akan merasakan kebersamaan Alloh dalam hidupnya, akan membuat dirinya dapat membedakan mana yg boleh dan mana yg tdk boleh dilakukan. Bisa membedakan mana yg Haq (benar) dan mana yg Bathil (salah). Sehingga ia tau rambu2 dalam hidupnya.
    Misalnya : ada atau tdk ada bundanya di sisinya, ia tak kan coba2 buka konten pornografi, karena ia paham itu tdk boleh.
    Ada tdk adanya ayah di sampingnya saat buka Hp, ia tak akan lihat film2 kekerasan, begitu pula saat ia diajak hal yg negatif oleh temannya ia bisa menolak karena sudah punya prinsip yg diajarkan oleh ayah bunda dan gurunya.

Kenapa sih anak2 tdk boleh menonton Film Dewasa ?

  1. Karena nalarnya belum siap, belum bisa membedakan ini baik atau tdk ? Ini efeknya apa kalau aku lakukan ?
  2. Anak2 yg menonton film pornografi dan kekerasan tanpa mereka sadari informasi tsb tersimpan di batang otaknya dlm jangka waktu yg lama. Bertahun2, Sulit terhapus.
    Bila ada kesempatan dan waktu luang, atau ada pemicunya, ia reflek akan melakukan kekerasan itu seperti film yg ia lihat. Tanpa ia fikir akibatnya. Baik untuk dirinya ataupun korbannya.

Lalu bagaimana solusinya agar anak2 kita terjaga dari kekejaman akibat pengaruh lingkungannya ?

  1. Berikan perhatian dan kasih sayang yg tulus, seutuhnya pada anak kita, dari bayi s/d dewasa nanti. Peluk, cium, setiap hari, saat akan brangkat sekolah, mau tidur, antar ke sekolah, juga saat ia bersikap baik, pujilah anak, apresiasi akhlak baiknya.
  2. Berikan edukasi yg penting ttg Apa fungsi Hp. Bahaya Hp, dan dampak penggunaan Hp yg tanpa aturan. Berikan pemahaman yg utuh dan aturan yg ketat dibarengi dgn kasih sayang. Ingat ada RS.Jiwa di Bogor yg pasiennya banyak anak2 yg candu main Game di Hp hingga merusak syaraf di otaknya dan berujung fatal, Gila..
    Berikan alternative kegiatan yg positif : main bola, naik sepeda, membaca komik bergambar yg edukatif, praktek membuat karya/ eksperimen. Intinya salurkan energi positif anak2 kita agar terlepas dari kecanduan akan Hp.
  3. Sering2lah bercerita, mendongeng, boleh ttg kisah hidup kakek nenek, ayah bunda atau kisah2 islami. Dongeng adalah media yg efektif dalam menanamkan nilai2 agama dan nilai2 kehidupan. Ceritakan bagaimana perjuangan bunda melahirkan dirinya, ceritakan bagaimana ayah cinta padanya dg mencari nafkah dari pagi hingga petang, kepanasan, kehujanan, dimarahi boss, dll demi keluarganya.
  4. Para orangtua hendaknya melakukan class action kpd pemerintah, dlm hal ini (Menkominfo) untuk men sensor film2 pornografi dan kekerasan, memfilter berita yg masuk ke Google atau medsos.
    Pemerintah perlu diberi masukan dan harus membuat kebijakan yg mendukung perkembangan psikologi anak2 Indonesia, misal : dg membatasi film2 import yg masuk ke Indonesia, grup2 musik luar yg mempengaruhi mental anak2 Indonesia, dsb. Bicarakan dgn anak2 kita secara terbuka , ngobrol yg banyak dan berkualitas saat momen berkumpul dgn kelg, matikan HP saat anak bercerita, fokus dan izinkan ia bercerita sampai tuntas dulu, baru boleh memberi respon.
    Respon pun jangan menjudge (menghakimi), tapi beri solusi yg menenangkan.
    Selalu berikan cara pandang positif kpd anak2 kita ttg masalah2 yg mereka hadapi. Beri alternatif saran yg bijak.
    “Saran bunda, bagaimana jika kaka begini..(bla bla)
    Jangan menangkap kata” mama kamu harus begini/ begitu ya..!
    Kalimat yg kedua ini dapat menutup komunikasi dan keterbukaan antara anak dan orang tua.

Semoga dari tayangan ILC mlm ini, (yg membuat kita kaget, ngeri dan prihatin) dapat memotivasi diri kita untuk mau BERUBAH menjadi ayah bunda yg lebih dekat dg anak. Menyediakan waktu2 khusus tuk anak2, mendengarkan keluh kesah mereka, mengarahkan mereka, menanamkan nilai2 kehidupan dalam percakapan sehari2 baik dari ayah ataupun bundanya…
Masih ada waktu, sebelum semuanya terlambat, mari kita perbaiki kualitas bonding kita thdp anak2 kita.

Kita adalah model bagi anak2 kita ; disaat kita ‘marah’, bahagia, ataupun sedih. Jadi hati2 lah menjadi model, karena fitrah anak2 kita adalah peniru ulung. Mereka melihat dan meniru ayah bundanya dalam ucapan dan sikap.
Jika kaka nya, ayahnya memberi contoh negatif, misalnya nonton film kekerasan dan pornografi, sulit pastinya melarang anaknya untuk tdk terpapar, kan ada contohnya.
So..hati2 ya ayah.

Semua bersumber dari rumah, dari keluarga ;

  • pola asuh
  • keteladanan
  • ketentraman
  • keterbukaan
  • komunikasi
  • aturan2 hidup
  • nilai2 kehidupan
  • bagaimana menghadapi krisis diri, Dll.

Sungguh peran orangtua dan keluarga sangat penting di era digital ini. Dan perlu bekal ilmu yg luas dalam mendidik anak2 kita, karena IT terus berkembang. Kejahatan pun juga terus mencari jalan. Jika kita tdk mau mencari ilmu, meng upgrade diri kita lewat bacaan2 buku parenting, atau menghadiri seminar parenting, maka kita akan tertinggal, kita akan kaget, terkejut dg kejahatan anak2 zaman now.
Mari ayah bunda, kita perbaiki hubungan kita dg anak2 kita.
Semoga Alloh jaga anak2 kita dg se-baik2 penjagaan dan se-baik” perlindungan.
Aamiin….🤲🏼

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *